Senin, 18 November 2013

Belajar terbang namun terjatuh hingga tertinggal sendiri di dalam sarang.

Selamat berjumpa lagi dengan saya seorang yang galau dengan nasib sebagai seorang anak penimba ilmu di jenjang diploma. Ya,,kali ini aku telah berhasil mengecewakan orang yang telah melahirkanku dengan mengorbankan nyawanya sendiri, merawatku tanpa lelah, mengajariku tentang hidup, dan menuntunku di setiap langkah dengan sabar meski aku sering terjatuh ke dalam lubang yang dalam. Namun kali ini Q telah jatuh lagi ke dalam lubang yang sama, namun dengan penyebab yang berbeda. Betapa bodohnya diriku  ini yang di anggap pintar dalam bangku pendidikan.

Entah cobaan apa lagi yang harus aku jalani tuk menempa diriku menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Harapan tinggalah menjadi sebuah harapan belaka tanpa menjadi sesuatu yang nyata. Andai aku di gambarkan sebagai seekor anak burung yang belajar terbang, mungkin aku hanya seekor anak burung yang mempunyai sayap namun tak sanggup untuk terbang. Sayap hanya sebagai penghias tubuh tanpa berguna bagiku.

Aku selalu ingin menjadi seekor anak burung yang mampu mengepakkan sayapku dan terbang jauh dan menjadi anak burung yang mandiri tanpa menyusahkan orang lain. Mungkin lebih nyaman di dalam sarang dalam hutan yang rindang, namun tak ada yang ku dapat di dalam sarang, hanya mati tanpa perjuangan. Lebih baik aku meninggalkan sarang menantang maut. Namun sekarang apa guna, terbangpun tak bisa. Entah apa yang harus aku lakukan saat ini, permasalahan datang satupersatu, solusi pun kian menjauhiku. Aku hanya butuh seekor burung yang mau menerimaku dan memberikanku mimpi2 yang pasti menjadi sebuah kenyataan.

Mungkin ini hanya sebuah harapan, hanya Tuhan yang tahu apakah harapan itu akan muncul kepermukaan atau hanya tenggelam dalam angan.