Selamat berjumpa lagi dengan saya
seorang yang galau dengan nasib sebagai seorang anak penimba ilmu di
jenjang diploma. Ya,,kali ini aku telah berhasil mengecewakan orang yang
telah melahirkanku dengan mengorbankan nyawanya sendiri, merawatku
tanpa lelah, mengajariku tentang hidup, dan menuntunku di setiap langkah
dengan sabar meski aku sering terjatuh ke dalam lubang yang dalam.
Namun kali ini Q telah jatuh lagi ke dalam lubang yang sama, namun
dengan penyebab yang berbeda. Betapa bodohnya diriku ini yang di anggap
pintar dalam bangku pendidikan.
Entah
cobaan apa lagi yang harus aku jalani tuk menempa diriku menjadi
seseorang yang lebih baik lagi. Harapan tinggalah menjadi sebuah harapan
belaka tanpa menjadi sesuatu yang nyata. Andai aku di gambarkan sebagai
seekor anak burung yang belajar terbang, mungkin aku hanya seekor anak
burung yang mempunyai sayap namun tak sanggup untuk terbang. Sayap hanya
sebagai penghias tubuh tanpa berguna bagiku.
Aku
selalu ingin menjadi seekor anak burung yang mampu mengepakkan sayapku
dan terbang jauh dan menjadi anak burung yang mandiri tanpa menyusahkan
orang lain. Mungkin lebih nyaman di dalam sarang dalam hutan yang
rindang, namun tak ada yang ku dapat di dalam sarang, hanya mati tanpa
perjuangan. Lebih baik aku meninggalkan sarang menantang maut. Namun
sekarang apa guna, terbangpun tak bisa. Entah apa yang harus aku lakukan
saat ini, permasalahan datang satupersatu, solusi pun kian menjauhiku.
Aku hanya butuh seekor burung yang mau menerimaku dan memberikanku
mimpi2 yang pasti menjadi sebuah kenyataan.
Mungkin
ini hanya sebuah harapan, hanya Tuhan yang tahu apakah harapan itu akan
muncul kepermukaan atau hanya tenggelam dalam angan.